CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Friday, August 14, 2009

Parenting dach.....

Kaget juga sich tadi siang pas dengar kisah salah satu artis muda indonesia yang mengupload video stressnya di Youtube. Buset dach, memangnya tidak bisa begitu dijadikan koleksi pribadi saja?

Sapa bilang jadi artis itu gampang. Lihat saja Drew Barrymore, dari kecil sudah jadi artis, pas remaja jatuh bangun dia alami. But she can survive. Seharusnya artis-artis di Indonesia tuch tau dan mengerti segala konsikuen yang ada ketika mereka memilih untuk menjadi seorang artis. Kalo misalnya ada yang bilang, "Khan saya sudah jadi artis dari saya kecil, waktu itu saya belum mengerti, saya iya, iya saja" itu berarti yang bertanggung jawab penuh dan seharusnya sadar peranannya adalah para orangtua. Berbahagialah artis-artis muda yang didampingi mama atau anggota keluarga lainnya.

Ini juga peringatan secara tidak langsung buat kita semua, baik itu orang tua maupun calon orang tua yang bermimpi anaknya menjadi artis terkenal. Sah-sah saja punya mimpi seperti itu dan mewujudkannya. Tapi, kita juga harus ingat dan paham betul segala kemungkinan yang akan terjadi ketika impian itu sedang dijalankan oleh anak-anak kita. Kalau sudah mengerti, langkah berikutnya yaitu apakah kita siap menjadi penuntun arah anak kita tanpa banyak mengatur? Apakah kita siap tidak terbawa emosi, ketamakan, keegoisan yang pastinya akan muncul tanpa diduga? Apakah kita sudah siap mempunyai solusi yang tepat buat anak-anak kita? Karena biar bagaimanapun, mereka itu titipan Tuhan bagi kita. But semuanya itu bukan berarti kita harus mengurung anak-anak kita dalam rumah setiap saat.

Kalo mau dibahas sampai tuntas sich tidak mungkin. Karena ilmu psikologiku masih kurang :D Tapi yang pasti, apa yang akan terjadi dengan anak-anak kita - entah anak kandung, anak angkat, anak adopsi, anak didik - itu semua ditentukan oleh bagaimana cara kita memberikan pengetahuan - formal dan non-formal - kepada mereka yang nantinya akan membentuk kepribadian mereka secara utuh.

Karena anak-anak itu bagaikan kertas putih yang masih kosong, bagaikan spons yang menyerap dengan cepat apa yang ada disekelilingnya. Beruntung sekali kalau anak itu cepat mengerti bahwa hal ini benar atau hal itu salah. Seandainya (dan pasti ada beberapa anak) yang menerima begitu saja tanpa menyaring terlebih dahulu. Kalo sampai hal itu terjadi, hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan, dan itu bukan berarti membawanya ke psikiater, tapi menyerahkan hidup anak itu ke tangan Tuhan Sang Pencipta...

Ini juga adalah satu hal yang harus aku ingat. Supaya nanti, ketika aku sudah mempunyai anak, aku sadar sebelum segala sesuatunya terlambat....

0 comments: